Bapak Jadikan Anak Kandung Budak Seks, Besar Banjarnahor : Gak Bisa Dibela Itu

Praktisi hukum, Besar Banjarnahor.(foto/ndo)

Siantar, hetanews.com - Seorang bapak kandung, di Kelurahan Bah Kapul, Kecamatan Siantar Sitalasari, Kota Siantar, menjadikan putrinya, sebut saja Bunga, sebagai budak seksnya, selama setahun belakangan ini.

Bunga yang masih berusia 11 tahun dan duduk di kelas V SD, merasakan kisah pilu dari bapak kandungnya sendiri yang sangat bejat tersebut.

Besar Banjarnahor, seorang praktisi hukum di Kota Siantar pun ikut mengutuk tindakan biadab dari bapak yang tega menyetubuhi putri kandungnya tersebut. Bahkan, Besar menerangkan, tindakan tersebut tidak bisa dibela.

"Bapak kandungnya yang melakukan?, gak bisa dibela pelaku ini. Karena, ayah kandung pula, itulah hal yang memberatkan. Anak kandung sendiri yang jadi korban," tutur pengacara senior, di Kota Siantar ini saat ditemui di Mapolres Siantar, Senin (9/10/2017).

Lanjutnya, terduga pelaku akan terancam pidana penjara selama puluhan tahun, sebab satu hal memberatkan lainnya adalah, menjadikan putrinya sebagai budak seks.

Apabila terduga pelaku didampingi penasehat hukumnya di persidangan, hal tersebut diyakininya juga tidak bisa membantu. Menurutnya, apabila diancam dan dijatuhi hukuman berat, sangat bagus apabila penasehat hukumnya sependapat (conform) dengan tuntutan jaksa serta putusan hakim tersebut.

"Gak bisa dibantu itu, bahkan kalau didampingi penasehat hukum tidak perlu dibuat nota pembelaan. Yang jelas penasehat hukum conform apa tuntutan jaksa dan juga putusan hakim," katanya.

Baca Juga: Miris, Siswi SD Ini Setahun Jadi Budak Seks Bapak Kandungnya

"Seperti kasus di Simalungun, oppung-oppung mencabuli cucunya. Puluhan tahun juga (hukuman penjara). Conform jaksa sama penasehat hukum," sambung Besar yang sudah dikenal banyak kalangan sebagai salah seorang pengacara ternama di Kota Siantar ini.

Apabila ia sebagai penasehat hukum terduga pelaku yang seperti itu, ia tidak akan mengajukan nota pembelaan (pledoi) atas tuntutan jaksa. Kecuali, apabila orang tersebut memang mengalami gangguan jiwa yang dibuktikan dengan surat dari psikiater.

"Jika saya penasehat hukumnya, saya tidak melakukan nota pembelaan secara tertulis. Kecuali dia (pelaku) orang gila. Kalau dia orang gila, ada surat sakitnya dari psikiater, baru saya buat nota pembelaannya itu. Ya namanya pun orang gilak, gitu ya,"tutup Besar Banjarnahor.

Penulis: Ndo. Editor: gun.