Sidang 3 Terdakwa Narkotika, Risbarita Simorangkir : Kalau Mau jadi Penjahat Harus Baca Undang-Undang

Anggota BNN Siantar saat memberikan keterangan di depan majelis hakim PN Siantar terkait kasus penyalagunaan natkotika jenis extasi dengan tiga terdakwa, Senin (17/07/2017). (foto: lazuardy fahmi)

Siantar, hetanews.com - Pengadilan Negeri (PN) Siantar, Senin (17/07/2017) kembali meggelar sidang terdakwa kasus narkotika dengan agenda mendengarkan keterangan saksi. 

Persidangan sendiri dipimpin oleh Ketua PN Siantar, Pasti Tarigan, dibantu dua hakim anggota, yakni Risbarita Simorangkir, Vita Sipayung dan seorang jaksa, Henny Simandalahi. 

Salah seorang saksi dari anggota Badan Narkotika Nasional (BNN), Hino Pasaribu, menceritakan sedikit kronilogis terjadinya penangkapan yang dilakukan di Hotel Anda, di Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Asahan, Kecamatan Siantar Timur, pada 22 Februari 2017. 

Hino mengatakan, kalau sebelumnya mereka (BNN) sudah melakukan pengintaian selama seminggu di sekitar Hotel Anda. Bahkan BNN juga sudah mengantongi ciri-ciri kedua terdakwa yakni, Brandon Lie alias Doni dan Azni Asra Siregar alias Acong. 

Saat melakukan penangkapan, 2 orang anggota BNN sudah berada di lantai IV Hotel Anda, sedangkan petugas BNN yang lain berpencar disekitar hotel tersebut.

Ketika berada di lantai IV, dua petugas BNN dengan meja kedua terdakwa bersebelahan, sehingga saat Acong memberikan ekstasi) yang berada di dalam bungkus kotak rokok sempurna, petugas BNN langsung melakukan penangkapan kepada ke dua terdakwa dan ditemukan 30 butir pil ekstasi di dalan kotak rokok itu. 

Setelah melakukan penangkapan kepada kedua terdakwa (Acong, Doni), petugas BNN melakukan pengembangan ke rumah Duma Yanti boru Simanjuntak yang berada di Jalan Maluku atas, Kelurahan Bantan, Kecamatan Siantar Barat.

Alhasil petugas BNN berhasil mengamankan barang bukti sebanyak 16 butir pil ekstasi dari belakang rumah boru Juntak. 

Tapi keterangan yang diberikan Hino dibantah terdakwa Doni. Bahwa yang dikatakan oleh saksi Hino tidak benar dan mengatakan kalau pada saat melakukan penangkapan mereka (Acong, Doni), BNN tidak bersebelahan meja, melainkan Doni satu meja dengan dua orang anggota BNN.

"Kami tidak bersebelahan meja dengan kedua anggota BNN itu yang mulia, satu meja dan pada saat itu, saya (Doni) sudah berada di Hotel Anda duluan. Lalu sekitar 1 jam, Acong datang dan meletakan bungkus rokok sempurna di meja tempat kami duduk yang mulia," ucap Doni saat berada di depan majelis hakim. 

Masih kata Doni, setelah Acong meletakan bungkus rokok Sampoerna itu, tiba-tiba BNN langsung menangkapnya dan saat itu ia sempat bingung.

"Kenapa saya ditangkap dan ketika saya dibawa mereka untuk masuk kedalam mobil. Daya malah dipukuli oleh 8 orang yang berada dibawa," katanya. 

Terdakwa Doni juga menyangkal kalau dirinya sudah diintai selama seminggu oleh petugas BNN. "

Saya katanya sudah diintai selama seminggu oleh BNN. Sedangkan saya selama seminggu tidak berada di kota Siantar melainkan di rumah orang tua saya," ujar Doni. 

Namun hakim anggota, Risbarita Simorangkir, memberikan sedikit nasihat kepada terdakwa boru Juntak, bahwa dalam melakukan kejahatan seperti ini harus membaca Undang-Udang (UU) terlebih dahulu. "Makanya kalau mau jadi penjahat harus baca Undang - undang dahulu, baru jadi penjahat," tegas Risbarita. 

Selesai memberikan nasehat, Ketua Majelis Hakim, Pasti Tarigan menutup sidang dan akan dilanjutkan Senin depan, 24 Juli 2017.

Penulis: Res. Editor: gun.